Senin, 17 Desember 2018, WIB

Senin, 28 Agu 2017, 16:50:53 WIB, 1098 View Anis Turmudhi, Kategori : Kerjasama

STIE AKA Semarang menggelar sosialilasi penulisan di jurnal internasional, melibatkan pengajar dari Griffith University Australia.

Sosialisasi penulisan di jurnal internasional itu untuk menjawab keputusan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi yang mewajibkan dosen aktif menulis di jurnal internasional. Kemristekdikti juga mewajibkan guru besar aktif menulis di jurnal internasional yang terindeks serta mempublikasikan hasil penelitian.

Saat ini, sebagian besar dosen di Indonesia merasa kesulitan untuk menembus jurnal bereputasi internasional. ini diungkapkan oleh Ketua STIE AKA Prof Dr Y Sutomo ketika membuka seminar ”Sosialisasi Teknik Menulis di Jurnal Ilmiah Internasional” di kampus Jalan Citarum 44 Semarang.

”Kami sengaja mengundang dosen dari Griffith University untuk membagikan kiat-kiat membuat artikel ilmiah sekaligus memacu semangat para dosen agar gemar menulis dan membuat artikel ilmiah,” kata Prof Sutomo. Seminar menghadirkan pakar dari Griffith University, Lanita Winata, dimoderatori oleh Riana S PhD. Menulis serta menerbitkan tulisan di sebuah jurnal internasional bukanlah perkara mudah.

Perlu ketekunan, kesabaran, dan ide segar apabila punya kehendak menerbitkan artikel di jurnal internasional diakui. Agar lebih mudah mudah diterbitkan, karya yang diunggulkan butuh sesuatu yang baru dan topik benar-benar dibutuhkan. ”Bukan dengan topik-topik yang sudah ada.

Itu akan sulit untuk diterbitkan. Pastinya, karya dosen yang diterbitkan adalah karya orisional,” ujar Lanita. Seminar diikuti dosen dari berbagai perguruan tinggi swasta di Semarang, di antaranya dari Stiepari, STIE Pena, Stifarming, Unisbank, USM, STIE Dharma Putera, AKS Ibu Kartini, STS Muhammadiyah, dan STS Semarang.

Lanita meminta dosen yang akan menerbitkan artikel ilmiah agar lebih jeli memilih jurnal. Sebisa mungkin mewaspadai jurnal-jurnal yang bersifat predator atau predatory journal. ”Karena kalau keliru memilih, ide dan pemikiran kita bisa dibajak oleh orang lain. Jadi, mesti hati-hati juga memilih jurnal,” kata perempuan asli Indonesia itu.





Tuliskan Komentar